Tidak Semua Kucing Boleh Dipelihara, Cermati Dahulu Katuranggan-nya
Dalam
tradisi Jawa, hewan tidak hanya dipandang sebagai makhluk hidup yang hidup
berdampingan dengan manusia, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan simbolik
yang menyimpan tanda, watak, dan petanda rezeki serta keberuntungan. Salah satu
kajian menarik dalam warisan budaya Jawa adalah katuranggan, ilmu untuk
membaca karakter atau pertanda dari bentuk fisik makhluk hidup, termasuk
kucing. Kucing di dalam primbon bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi juga
dianggap membawa pengaruh tertentu bagi pemilik rumah. Karena itu, muncul
anggapan populer bahwa tidak semua kucing baik untuk dipelihara, tergantung
tanda fisik dan katuranggan yang melekat padanya. Berikut adalah
beberapa jenis katuranggan kucing menurut primbon Jawa.
1. Kucing
Putih: Pertanda Berkah dan Penjaga Rumah
Kucing yang dominan berwarna putih sering
dikaitkan dengan lambang kesucian, pembawa ketenangan, dan penjaga aura positif
rumah. Dalam primbon, kucing putih dianggap cocok dipelihara karena
melambangkan keberuntungan dan kejernihan pikiran pemilik rumah. Kehadirannya
dipercaya dapat meredam energi negatif dan membuat suasana rumah lebih teduh.
2. Kucing
Hitam: Sering Disalahpahami, Namun Berkarakter Kuat
Dalam budaya global, kucing hitam sering
ditafsirkan negatif. Namun dalam primbon Jawa, tafsirnya tidak selalu buruk. Kucing
hitam hanya dianggap kurang cocok dipelihara jika memiliki mata merah atau
perilaku agresif, karena diyakini membawa “beban energi berat”. Namun, kucing
hitam yang tenang dan bersahabat justru dianggap pemberani, penjaga malam yang
baik, dan memiliki naluri protektif. Artinya, kucing hitam tidak otomatis
“membawa sial”. Kuncinya ada pada perilaku dan tanda fisiknya.
3. Kucing
Kecubung (Belang Tiga): Pembawa Rezeki
Kucing
bercorak tiga warna, sering disebut kecubung, kembang telon, atau
kaliko, dianggap memiliki katuranggan istimewa yakni cocok dipelihara,
pembawa rezeki, dan membawa energi kreativitas. Dalam tradisi Jepang kucing ini
dikenal sebagai maneki-neko, tetapi dalam tradisi Jawa pun ia dihargai sebagai
kucing keberuntungan. Fun fact dari kucing ini adalah hampir bisa
dipastikan berkelamin betina karena apabila jantan dipercaya dapat memberikan
kesialan baik bagi si kucing, induknya, maupun pemiliknya.
4. Kucing Putih
Kuning/Kucing Gembel: Dipercaya Kurang Baik untuk Dipelihara
Beberapa warna atau tanda tertentu pada
kucing dianggap kurang menguntungkan dalam primbon, salah satunya kucing
berwarna campuran putih dan kuning dengan bulu acak-acakan, ekor bengkok
ekstrem, dan memiliki garis hitam penuh di sepanjang punggung. Primbon
menuliskan bahwa kucing dengan ciri-ciri tersebut diyakini membawa “energi
panas” yang dapat memicu pertengkaran dalam rumah. Meski demikian, keyakinan
ini bersifat budaya, bukan penilaian moral terhadap hewan.
5. Kucing yang
Datang Sendiri ke Rumah: Pertanda yang Perlu Dibaca
Dalam budaya Jawa terdapat kepercayaan “kewane
teka dhewe, ana teges sing digawa”, artinya, kucing yang datang sendiri ke
rumah perlu diperhatikan tanda-tandanya. Jika ia terlihat tenang, sehat, dan
cepat akrab → pertanda baik, simbol rezeki terbuka. Namun apabila ia gelisah,
agresif, atau terus mengeong → dapat dibaca sebagai pertanda ada energi yang
perlu diseimbangkan, bukan berarti kucing itu buruk.
Penting untuk diingat bahwa katuranggan adalah tafsir budaya, bukan hukum mutlak. Masyarakat Jawa memakainya sebagai cara memahami alam, dan kehidupan, tradisi membaca tanda, serta sarana menjaga harmoni rumah. Dalam konteks modern, katuranggan dapat dihargai sebagai bagian dari warisan literasi budaya Jawa, tanpa perlu dijadikan penilaian yang merugikan hewan. Katuranggan membantu masyarakat zaman dahulu memahami dunia melalui simbol. Meski demikian, dalam praktik kontemporer, kucing tetaplah makhluk yang membutuhkan kasih sayang. Bagian yang terpenting adalah pemilik rumah lebih memahami karakter hewannya, bukan hanya warnanya. Dengan begitu, kita bisa menghargai budaya Jawa sekaligus menjaga kesejahteraan hewan.