Bijaksana ketika UAS
Ujian Akhir Semester (UAS) merupakan bagian
penting dalam perjalanan akademik mahasiswa. Dalam pandangan budaya Jawa, ujian
bukan sekadar pengukuran hasil belajar, melainkan juga sarana membentuk sikap
hidup: tertib, sabar, dan bertanggung jawab. Seperti paribasan Jawa, “urip iku
sawang-sinawang,” UAS dapat dirasakan berat atau ringan tergantung cara
menyikapinya. Agar UAS dapat dijalani dengan lebih tenang dan optimal, berikut
beberapa tips dan trik yang dapat diterapkan oleh mahasiswa.
Pertama, alon-alon waton kelakon. Menyusun
strategi belajar secara bertahap secara realistis akan membantu mahasiswa
mengelola energi dan fokus. Alon-alon waton kelakon mengingatkan bahwa
proses yang tertata sering kali menghasilkan capaian yang lebih baik daripada
belajar terburu-buru. Setelah UAS selesai, luangkan waktu untuk mengevaluasi
proses belajar yang telah dilalui. Sikap reflektif ini sejalan dengan ajaran eling
lan waspada, agar pengalaman satu semester dapat menjadi bekal untuk
perbaikan di masa mendatang.
Kedua, nyekel pathok, aja nganti uwal.
Dalam kajian bahasa dan sastra, pemahaman konsep lebih utama daripada hafalan.
Mahasiswa disarankan untuk menandai poin penting dan menghubungkannya dengan
contoh konkret. Nyekel pathok aja nganti uwal mengarahkan mahasiswa
untuk tetap berpegang pada inti agar tidak kehilangan arah. Kerjakan soal-soal
UAS dengan bahasa yang jelas, runtut, dan tepat.
Ketiga, wong sabar luhur wekasane. Manajemen
waktu sangat menentukan hasil ujian. Bacalah soal dengan cermat dan kerjakan
yang paling dikuasai terlebih dahulu. Wong sabar luhur wekasane mengajarkan
bahwa ketenangan dan kesabaran akan membawa hasil yang lebih baik. Selain itu,
belajar secara optimal membutuhkan tubuh dan pikiran yang sehat. Istirahat
cukup, makan teratur, dan menghindari kelelahan berlebihan merupakan bentuk
ikhtiar menjaga keseimbangan antara masa, raga, dan pikiran.
Keempat, becik ketitik, ala ketara. Kejujuran
merupakan nilai utama dalam dunia pendidikan. Mengerjakan UAS dengan jujur dan
percaya pada kemampuan sendiri adalah wujud tanggung jawab moral. Becik
ketitik, ala ketara mengingatkan bahwa kebaikan dan keburukan pada akhirnya
akan tampak dengan sendirinya.
UAS bukan sekadar penentu nilai akhir,
melainkan bagian dari proses pembentukan sikap dan karakter akademik mahasiswa.
Dengan persiapan yang matang, sikap tenang, serta berpegang pada nilai-nilai
kearifan lokal, UAS dapat dijalani dengan lebih bijaksana.
Selamat menempuh UAS, semoga lancar dan
membuahkan hasil yang membanggakan!