Fenomena ‘Kukusan’: Kembali ke Dapur Sehat ala Tradisi Jawa
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat sering
menjumpai pedagang kukusan, aneka makanan tradisional yang diolah dengan cara
dikukus. Kawasan pemukiman hingga pusat keramaian, jajanan sehat seperti ubi
kukus, singkong, pisang, jagung, dan talas kembali hadir sebagai alternatif
pangan yang sederhana namun menyehatkan. Fenomena ini tidak sekadar tren
kuliner, tetapi mencerminkan perubahan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup
sehat yang selaras dengan kearifan lokal.
Dalam tradisi Jawa, teknik memasak dengan cara
mengukus telah lama dikenal sebagai cara mengolah pangan yang sederhana dan
tepat. Berbeda dengan menggoreng yang membutuhkan banyak minyak, mengukus
mempertahankan rasa asli bahan makanan sekaligus menjaga kandungan gizinya.
Para pedagang kukusan menawarkan kesederhanaan yang justru menyehatkan, baik
bagi tubuh maupun pola hidup.
Meningkatnya jumlah pedagang kukusan tidak dapat
dilepaskan dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya konsumsi
makanan berminyak dan tinggi gula. Makanan kukus relatif rendah lemak, mudah
dicerna, dan mengenyangkan, sehingga cocok dikonsumsi oleh berbagai kalangan,
termasuk mahasiswa yang membutuhkan asupan sehat dengan harga terjangkau.
Jajanan sehat ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberi energi tanpa
rasa bersalah karena minim pengolahan berlebih.
Fenomena pedagang kukusan juga dapat dibaca sebagai
bentuk resistensi budaya terhadap gaya hidup serba instan. Di tengah
menjamurnya makanan cepat saji, kukusan hadir sebagai pengingat bahwa pangan
lokal memiliki nilai kesehatan sekaligus identitas budaya. Dalam perspektif
budaya Jawa, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan sarana menjaga
keseimbangan jasmani dan rohani.
Menariknya, pedagang kukusan kini tidak hanya hadir dalam bentuk tradisional, tetapi juga mulai dikemas secara modern, dengan penyajian rapi, variasi menu, hingga inovasi rasa. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi relevan; justru dapat diadaptasi mengikuti zaman tanpa kehilangan esensinya. Fenomena ini menjadi bukti bahwa gaya hidup sehat tidak selalu identik dengan makanan mahal atau impor. Justru dari pangan lokal yang sederhana, masyarakat dapat menemukan pola hidup yang lebih berkelanjutan.