Makna Lagu “Sewates Gandrung” dalam Potret Asmara Generasi Z
Musik Jawa
kontemporer saat ini sedang mengalami perkembangan yang banyak digemari oleh
masyarakat. Lagu “Sewates Gandrung” karya M. Aziz Nugraha Jati muncul sebagai
salah satu karya yang mendapat perhatian karena merangkum perasaan cinta yang
menggantung. Kata gandrung merujuk pada rasa tertarik yang mendalam,
disertai hasrat ingin lebih dekat namun belum sampai pada hubungan penuh. Gandrung
adalah fase awal cinta yang indah, memabukkan, namun rentan layaknya ungkapan
pada reff yang berbunyi gandrung aku gandrung, kaya wong ling lung.
Melalui
pilihan diksi yang sederhana dan mudah dicerna, Aziz N. Jati menghadirkan
narasi cinta yang tidak sampai pada titik pertemuan. Hal tersebut tersurat pada
lirik impenku marang sliramu, suk kapan bisa bersatu mempertegas pada
cinta yang hanya sebatas angan dan terhenti di pintu harapan. Ungkapan tersebut
ditopang kuat pada akhir lirik aku karo kowe mung kekancan wae, tutugna
lakumu tak rampungi nangisku. Inilah relevansi utama dari lagu ini, berupa
kejujuran dalam menghadirkan cinta yang tidak selesai.
Lagu
“Sewates Gandrung” terasa begitu akrab dengan pengalaman generasi Z. Gen Z
hidup dalam lanskap sosial yang serba cepat, penuh ambiguitas, dan terhubung
oleh dunia digital. Pola relasi mereka yang lebih cair daripada generasi
sebelumnya sangat memengaruhi kehidupan, khususnya dalam segi percintaan. Lagu
ini mewakili perasaan cinta yang dipeluk setengah hati, cukup untuk dirasakan
namun tidak kuat untuk diperjuangkan. Bagi gen Z, gandrung seringkali
menjadi zona aman. Makna lirik seperti muga awak dhewe tetep bahagia selalu
mencerminkan cara gen Z merawat rasa meskipun cinta tidak harus menjadi
hubungan.
Sewates
Gandrung bukan
sekadar lagu cinta, melainkan cermin pengalaman manusia saat berhadapan dengan
perasaan yang belum ada jawaban. Bahasa Jawa sebagai medium menunjukkan
relevansinya dengan ekspresi emosional anak muda. Hal ini menjadi bukti bahwa
bahasa Jawa mampu menampung rasa yang bersifat kontemporer, seperti galau. Bagi
gen Z, lagu ini adalah representasi relasi cair dan kompleksitas perasaan.
Lirik-lirik dari lagu ini menyiratkan bahwa tidak semua rasa harus memiliki
ujung dan hanya ditakdirkan untuk mengisi ruang batin dalam kesenyapan.