Guru: Digugu lan Ditiru
Seorang guru berdiri di depan kelas, membawa buku lusuh di tangan,
memberikan senyum yang disembunyikan di balik lelah. Setiap hari, mereka
membuka pelajaran seperti biasa, walaupun sering kali dunia luar kelas tidak
lagi memberikan rasa aman yang sama seperti dulu. Guru, digugu lan ditiru,
sebuah klausa usang dari masa silam kembali bergaung. Falsafah yang pernah
menempatkan guru sebagai figur yang paling dihormati, kini justru diuji oleh
zaman yang dipenuhi ketidaktahuan diri.
Dalam khazanah Jawa, gambaran guru sangatlah luhur. Guru adalah pemimpin
batin, bukan sekadar pengajar. Dalam pewayangan kita mengenal sosok Semar,
pamong sederhana bahkan banyak yang mengira disabilitas namun bijaknya
melampaui ksatria. Semar tidak menggurui dengan amarah, melainkan dengan laku
tulus yang meneduhkan. Ada pula Resi Durna, sosok guru tragis yang dihormati
sekaligus diragukan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa guru tanpa integritas
akan kehilangan siswanya. Sementara Begawan Abiyasa dan Bisma adalah simbol
kegigihan menjaga kebaikan, walaupun dunia selalu berubah tidak sesuai harapan.
Sisi lain keguruan tercermin pada Wali Songo, yang memberikan dan menyebarkan ajaran dengan kesabaran tanpa batas. Sunan Kalijaga misalnya, membimbing masyarakat melalui wayang, tembang, dan simbol budaya agar pesan kebenaran mudah diterima. Beliau adalah contoh bagaimana guru merendahkan diri agar ilmunya meninggi. Ketika kita membahas “digugu lan ditiru”, yang sebenarnya kita rindukan adalah rasa hormat. Saling hormat antara guru dan murid, antara sekolah dan orang tua, serta antara masyarakat dan mereka yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik.
Ruang kelas harus menjadi tempat yang aman bagi semua penghuninya. Seorang guru yang memberikan dorongan dan arahan kepada siswanya, tidak sepantasnya mendapat balasan amarah orang tua bahkan penjara. Tanpa ruang mendisiplinkan, bagaimana cara terbentuknya karakter siswa? Momen hari guru ini dapat menjadi refleksi bagi kita mengenai sosok dan peran guru bagi bangsa dan negara. Guru adalah cahaya yang tidak meminta balasan, hanya berharap diberi ruang untuk terus menyala. Selagi masih ada guru yang mengajar dengan hati, siswa yang mau belajar, dan masyarakat yang menghargai, maka guru akan tetap digugu, ditiru, dipercaya, dan diteladani.