Hajat Alam: Ketika Semesta Mencari Keseimbangan
Belakangan
ini, berbagai peristiwa alam terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Gempa bumi,
erupsi gunung berapi hingga kemarau panjang menjadi bagian dari dinamika alam
yang tidak selalu dapat diprediksi manusia. Dalam perspektif modern, peristiwa
tersebut lazim disebut sebagai “bencana alam”. Namun, jika dilihat melalui
kacamata kebudayaan Jawa, terdapat cara pandang yang berbeda dalam memahami
hubungan manusia dengan alam.
Dalam
pandangan kosmologi Jawa, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa tunggal
atas alam. Manusia merupakan bagian dari jagad raya yang memiliki hubungan
timbal balik dengan lingkungan di sekitarnya. Kehidupan manusia berlangsung
bersama tanah, air, gunung, laut, tumbuhan, hewan, dan berbagai unsur semesta
lainnya. Karena itu, ketika terjadi perubahan besar pada alam, masyarakat Jawa
secara tradisional tidak selalu memandangnya semata-mata sebagai sesuatu yang
harus ditakuti. Peristiwa tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari proses alam
untuk menata dirinya sendiri.
Di
sinilah gagasan “hajat alam” dapat digunakan sebagai metafora budaya. Alam
seolah-olah sedang mempunyai gawe dan sedang melakukan suatu proses, bergerak,
berubah, dan mencari keseimbangannya. Gunung yang meletus, misalnya, merupakan
bagian dari dinamika geologis; demikian pula musim yang berubah merupakan
bagian dari siklus alam. Dengan perspektif tersebut, manusia diajak untuk
menyadari bahwa alam memiliki prosesnya sendiri yang tidak selalu dapat
dikendalikan oleh manusia.
Konsep
hajat alam bukan berarti meniadakan istilah bencana atau mengabaikan dampak
nyata yang dialami masyarakat. Gempa, erupsi, banjir, dan kekeringan tetap
dapat menimbulkan korban jiwa, kerusakan, serta kerugian sosial-ekonomi. Karena
itu, mitigasi dan pengetahuan ilmiah tetap menjadi hal yang sangat penting. Namun,
perspektif budaya dapat memberikan lapisan pemaknaan yang berbeda. Alih-alih
melihat alam hanya sebagai sesuatu yang “mengganggu” kehidupan manusia, kita
dapat memandang manusia sebagai bagian dari jejaring kehidupan yang lebih luas.
Dalam
kerangka tersebut, pertanyaan yang muncul bukan hanya “Mengapa alam menyebabkan
bencana?”, tetapi juga “Bagaimana manusia selama ini memperlakukan alam?”
Pertanyaan
kedua membawa kita pada refleksi ekologis. Ketika hutan ditebang, sungai
tercemar, tanah dieksploitasi secara berlebihan, dan ruang hidup terus
mengalami perubahan, manusia sesungguhnya sedang mengubah keseimbangan ekologis
yang menopang kehidupannya sendiri.
Pesan
dari Alam
Khazanah
budaya Jawa mengenal berbagai ajaran tentang pentingnya eling lan waspada
(senantiasa ingat dan berhati-hati). Dalam konteks ekologis, prinsip tersebut
dapat dimaknai sebagai ajakan agar manusia tidak kehilangan kesadaran mengenai
posisinya di tengah semesta. Alam tidak selalu harus ditaklukkan. Alam perlu
dipahami, dihormati, dan dirawat. Ketika alam sedang “memiliki hajat”, manusia
seolah diingatkan untuk berhenti sejenak dari kesombongannya. Gunung
mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas bumi. Laut
menunjukkan bahwa kekuatan alam jauh melampaui kemampuan manusia. Kekeringan
mengingatkan betapa pentingnya air bagi kehidupan. Sementara gempa menyadarkan
bahwa tempat yang selama ini dianggap kokoh pun dapat bergerak dalam sekejap.
Dalam
pandangan ekologis Jawa, hubungan manusia dengan alam idealnya bukan hubungan
satu arah. Manusia menerima kehidupan dari alam, tetapi pada saat yang sama
memiliki kewajiban untuk merawat keberlangsungannya. Tanah memberikan pangan.
Air menopang kehidupan. Hutan menyediakan udara dan keanekaragaman hayati.
Gunung dan laut menjadi bagian dari ruang hidup sekaligus sumber penghidupan
masyarakat. Sebaliknya, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar seluruh
sistem tersebut tetap dapat berlangsung.
Hubungan
semacam ini dapat dipahami sebagai prinsip saling memberi dan menerima. Ketika
relasi tersebut terganggu, persoalannya tidak selalu semata-mata berada pada
alam, tetapi juga dapat berkaitan dengan cara manusia memperlakukan lingkungan.
Karena itu, hajat alam tidak seharusnya dipahami sebagai pembenaran terhadap
segala bentuk kerusakan atau sebagai alasan untuk mengabaikan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, konsep tersebut dapat menjadi jembatan antara kearifan lokal dan
kesadaran ekologis modern.
Hajat alam dapat dibaca sebagai sebuah pengingat budaya bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan cara manusia hidup. Alam bergerak menurut hukumnya. Manusia hidup di dalamnya, bukan di luarnya. Maka, ketika alam sedang hajat, barangkali manusia perlu ingat bahwa bumi bukan semata-mata tempat untuk dieksploitasi, melainkan rumah yang harus dijaga bersama. Rendah hati di hadapan alam, bijaksana dalam memanfaatkannya, dan bertanggung jawab terhadap sesama makhluk.