Tari Gambyong Hadir di Tengah Dunia Sains: Mahasiswa UNESA Harumkan Budaya Jawa di Panggung Nasional Malaysia
Di tengah hiruk-pikuk pameran inovasi sains dan teknologi,
sebuah pertunjukan seni
tradisional justru menjadi pusat perhatian, yaitu
Tari Gambyong yang dibawakan oleh perwakilan mahasiswa Program Proyek Kemanusiaan dari Program Studi Pendidikan Bahasa
dan
Sastra Jawa, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Penampilan eksotis tarian klasik Jawa Tengah ini menghiasi panggung
Acara Minggu Sains Negara pada hari Senin, 29 September
2025 yang berlangsung di Pagoh, Johor,
Malaysia, dan langsung
menyedot antusiasme ribuan pengunjung dari berbagai latar belakang.
Acara Minggu
Sains Negara, yang
biasanya didominasi oleh presentasi riset, robotika, dan
inovasi teknologi, justru kali ini membuka ruang bagi seni budaya sebagai bagian dari ekosistem ilmu pengetahuan yang holistik. Keberanian panitia menghadirkan Tari Gambyong (tarian penyambutan khas Jawa yang penuh kelenturan dan makna filosofis) menjadi simbol
kuat
bahwa sains dan budaya bukanlah dua hal yang bertentangan,
melainkan
dua sayap yang
saling
melengkapi.
Penampilan
ini
merupakan rangkaian dari kegiatan Proyek Kemanusiaan UNESA yang
berlangsung sepanjang bulan September hingga awal Oktober 2025 di Muar, Johor, bekerja sama dengan Keraton Mbah Anang. Dalam misinya, para mahasiswa tidak hanya mengajarkan
bahasa Jawa dan aksara, tetapi juga membawa seni pertunjukan sebagai sarana diplomasi budaya.
“Ini pertama kalinya kami tampil di forum
sains nasional Malaysia. Awalnya kami ragu, apakah
Tari Gambyong akan diterima di tengah suasana yang sangat teknis.
Tapi ternyata, justru di
sanalah seni kita paling dibutuhkan sebagai pengingat bahwa di balik
data dan algoritma,
ada
manusia dengan sejarah dan jati diri. Penonton memberi tepuk tangan berdiri. Itu momen yang
tak
terlupakan.” Ujar Rai Sayudha sebagai Ketua
Tyasmalaka Batch 1 (kelompok mahasiswa
pelaksana proyek).
Tari Gambyong yang dibawakan oleh perwakilan mahasiswi UNESA tersebut dikemas dengan latar
musik gamelan yang
diaransemen secara modern namun tetap
menjaga keaslian struktur
gerak dan makna simbolisnya. Gerakan tangan yang lembut, pandangan mata yang teduh, serta busana tradisional Jawa yang memukau membuat penonton seolah dibawa ke kraton Surakarta,
meski berada di tengah kawasan pendidikan teknologi Pagoh.
Kegiatan ini juga menjadi wujud
nyata dari misi “nguri-uri” (melestarikan)
budaya Jawa yang
digaungkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa UNESA. Dengan menembus ruang- ruang nontradisional seperti forum sains,
budaya Jawa tidak
lagi dipandang sebagai hal yang
“kuno” atau “ketinggalan zaman”, melainkan sebagai kekayaan intelektual yang relevan di era digital.
Kehadiran Tari Gambyong di Acara Minggu Sains Negara bukan hanya soal estetika, tetapi juga pernyataan: bahwa identitas budaya Indonesia khususnya Jawa layak berdiri setara di
panggung global, bahkan di tengah kemajuan
ilmu pengetahuan
paling mutakhir sekalipun.