Kethoprak Pelor Waja Mbalela : Lokakarya 2026 Sebagai Upaya untuk Melestarikan Drama Tradisional Jawa
Surabaya, 13 Mei 2026 Program Studi
Pendidikan Bahasa lan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Surabaya kembali melaksanakan rangkaian kegiatan Lokakarya 2026 bertempat di
Gedung Pertunjukan Sawunggaling UNESA. Hari kedua kegiatan menjadi puncak acara
melalui pementasan ketoprak yang menampilkan kreativitas serta kemampuan
mahasiswa dalam menghidupkan drama tradisional Jawa.
Pementasan ketoprak dimulai pada pukul 19.40 WIB hingga
21.30 WIB dan dibuka dengan penampilan Tari Gambyong Pareanom sebagai bentuk
penghormatan terhadap seni tradisi Jawa. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan
dengan lakon “Pelor Waja Mbalela” yang mengangkat kisah konflik kekuasaan
antara Adipati Pelorwaja dan kakangnya, Rangganata. Konflik tersebut dipicu
rasa iri setelah Rangganata dipilih menjadi pemimpin para adipati Brang Wetan.
Lakon ini menghadirkan alur cerita yang penuh ketegangan, nilai kepemimpinan,
pengkhianatan, dan perjuangan mempertahankan kehormatan.
Seluruh pemain, penata artistik, tim karawitan, hingga
panitia bekerja sama dengan baik sehingga pertunjukan berlangsung lancar dan
mendapat apresiasi positif dari penonton. Kehadiran dosen, tamu undangan,
mahasiswa, serta masyarakat umum turut memeriahkan suasana pagelaran ketoprak
Lokakarya 2026.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai
seni pertunjukan tradisional, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya, etika,
dan filosofi kehidupan yang terkandung dalam cerita ketoprak. Kegiatan
Lokakarya 2026 diharapkan mampu menjadi media pembelajaran yang kreatif
sekaligus upaya nyata dalam menjaga eksistensi budaya Jawa di kalangan generasi
muda.
Semoga kegiatan ini dapat terus menjadi
wadah pengembangan seni budaya Jawa serta mempererat rasa kebersamaan di
lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri
Surabaya.