Dosen PBSJ Unesa Gelar Pelatihan Nembang Macapat, Perkuat Fondasi Seni Tradisi di Desa Dermosari, Trenggalek
Trenggalek – Sebagai wujud pelaksanaan Tri Dharma
Perguruan Tinggi, dosen Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
(PBSJ), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pelatihan
Nembang Macapat bagi Paguyuban Budi Luhur. Kegiatan ini dilaksanakan pada
Jumat, 10 Juli 2026, bertempat di Balai Desa Dermosari, Kecamatan Tugu,
Kabupaten Trenggalek, dan diikuti oleh sekitar 25 peserta yang merupakan
anggota Paguyuban Budi Luhur.
Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk
memperkuat pemahaman masyarakat terhadap seni tembang macapat sebagai salah
satu warisan budaya adiluhung Jawa. Di tengah derasnya arus globalisasi,
pelestarian tradisi lisan seperti macapat memerlukan sinergi antara perguruan
tinggi dan masyarakat agar nilai-nilai budaya tetap hidup serta diwariskan
kepada generasi berikutnya.
Pada kesempatan tersebut, Drs. Sugeng Adipitoyo, M.Si.
hadir sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan kekayaan
khazanah tembang macapat di Pulau Jawa yang memiliki karakteristik dan gaya
penyajian berbeda pada setiap daerah. Peserta dikenalkan dengan berbagai corak
macapat, mulai dari gaya Pesisiran seperti Gresik dan Tuban, gaya Surakarta,
hingga gaya Yogyakarta. Perbedaan tersebut tidak hanya tampak pada teknik
vokal, tetapi juga pada cengkok, penghayatan, dan estetika musikal yang
berkembang sesuai dengan tradisi masing-masing wilayah.
Tidak berhenti pada penyampaian teori, kegiatan juga
dilanjutkan dengan sesi praktik nembang macapat secara langsung. Para peserta
memperoleh kesempatan untuk melantunkan berbagai pupuh macapat dengan
pendampingan narasumber. Melalui sesi praktik ini, peserta tidak hanya
memperdalam teknik vokal, tetapi juga memahami makna filosofis yang terkandung
dalam setiap tembang. Suasana pelatihan berlangsung hangat, interaktif, dan
penuh antusiasme, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pelestarian
seni tradisional Jawa.
Kepala Desa Dermosari, Suminto, menyampaikan apresiasi
atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, selama ini anggota
Paguyuban Budi Luhur mempelajari tembang macapat secara mandiri dan berdasarkan
pengalaman turun-temurun. Kehadiran dosen dari PBSJ FBS Unesa memberikan
penguatan yang sangat berarti, terutama dalam aspek teori, sejarah perkembangan
macapat, serta teknik nembang yang benar.
"Selama ini kami belajar secara otodidak. Melalui
pelatihan ini, kami memperoleh dasar teori yang lebih kuat sehingga praktik
nembang yang selama ini dilakukan menjadi semakin terarah. Kami berharap
kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut," ungkap Suminto.
Koordinator Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan
Sastra Jawa, Latif Nur Hasan, turut memberikan apresiasi terhadap semangat
belajar yang ditunjukkan oleh para peserta. Menurutnya, antusiasme masyarakat
Desa Dermosari menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya Jawa masih tumbuh
kuat di tengah masyarakat.
"Kami melihat sumber daya manusia di Desa
Dermosari sangat luar biasa. Semangat belajar, kemauan melestarikan budaya,
serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi modal yang sangat penting dalam
menjaga keberlangsungan tradisi macapat," ujarnya.
Bagi Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, kegiatan pengabdian ini tidak hanya menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga bagian dari komitmen untuk menjembatani dunia akademik dengan masyarakat. Pengetahuan yang dikembangkan di kampus diharapkan dapat memberikan manfaat nyata melalui pemberdayaan komunitas budaya, khususnya dalam pelestarian sastra lisan dan kesenian tradisional Jawa.