Dari Kampus ke Dunia Panggung: KKN Internasional UNESA Turut Sukseskan Festival Wayang Wong 2025 di Keraton Mbah Anang Muar, Malaysia
MUAR - Penampilan Wayang Wong Jawa menjadi daya tarik utama dalam Festival Wayang Wong 2025 yang berlangsung di Keraton Mbah Anang, Muar, Johor Bahru, Malaysia. Festival ini digelar selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 18–19 Oktober 2025, dengan pementasan dimulai pukul 20.00 Waktu Malaysia. Ajang budaya tersebut mempertemukan para seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam satu panggung lintas negara.
Penyelenggaraan Festival Wayang Wong 2025 berada di bawah naungan Keraton Mbah Anang dan mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan Malaysia (MOTAC) melalui program Geran Sokongan Sektor Kebudayaan (GSSK) 2025. Dukungan ini menunjukkan keseriusan pemerintah Malaysia dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi yang menjadi bagian dari khasanah budaya Nusantara.
Keterlibatan kalangan akademisi turut memberi warna tersendiri dalam festival ini. Mahasiswa KKN Internasional Tyasmalaka Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, ambil bagian secara aktif dalam pelaksanaan acara. Mereka tidak hanya terlibat sebagai pendukung teknis, tetapi juga berperan langsung sebagai pemain gamelan dan penari Gambyong yang mengiringi pementasan Wayang Wong.
Selain tampil di atas panggung sebagai pengrawit dan penari, mahasiswa KKN Internasional Tyasmalaka UNESA juga terlibat dalam kepanitiaan, terutama pada tim produksi. Keterlibatan tersebut mencakup pengaturan alur pertunjukan, koordinasi antar penampil, hingga memastikan kelancaran rangkaian kegiatan festival. Peran ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman, yang memberi kesempatan mahasiswa untuk terjun langsung dalam kegiatan budaya berskala internasional.
Pendiri Persatuan Jawa Parit Bugis (PEJAWA) Muar, Johar Paimin, menyampaikan bahwa partisipasi mahasiswa KKN Internasional Tyasmalaka UNESA memberikan kontribusi signifikan terhadap suksesnya penyelenggaraan festival. Menurutnya, kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu aspek teknis pementasan, tetapi juga menghadirkan semangat regenerasi dalam pelestarian seni tradisi Jawa.
Pementasan utama Festival Wayang Wong 2025 mengangkat lakon Anoman Obong, yang dipilih sebagai bentuk pengembangan kreativitas tanpa meninggalkan pakem Wayang Wong. Lakon ini mengisahkan kepahlawanan Anoman, kera putih sakti utusan Prabu Rama, dalam upaya menyelamatkan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana di Negeri Alengka.
Dalam alur cerita tersebut, Anoman menunjukkan keberanian dan kesetiaan. Setelah berhasil menyampaikan cincin amanat kepada Dewi Sinta, ia tertangkap dan dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup. Kesaktiannya membuat api tidak melukai tubuhnya, bahkan justru membakar Negeri Alengka, yang dimaknai sebagai simbol kemenangan kebenaran atas kejahatan.
Rangkaian acara pembukaan festival turut dimeriahkan dengan penampilan sejumlah tari klasik Jawa, seperti Tari Gambyong, Tari Ksatria, dan Tari Merak. Tarian-tarian tersebut menampilkan kehalusan gerak, ketangguhan karakter, serta kekayaan estetika seni tradisi Jawa. Pada malam penutupan, Minggu, 19 Oktober 2025, festival ini ditutup dengan pertunjukan hiburan musik. Ratu Irama Malaysia, Noraniza Idris, bersama artis legendaris Shafie Rio, tampil menghibur penonton dan menambah semarak suasana penutupan.
Selain mahasiswa KKN Internasional Tyasmalaka UNESA, festival ini melibatkan berbagai komunitas dan institusi seni, antara lain Rumah Budaya Indonesia Satu, Sanggar Wayang Gogon dan Sekar Jagat Surakarta, Telung Turonggo Arts Singapura, Persatuan Seni Silat Warisan Nusantara, serta Sekolah Indonesian Community Center (ICC) Muar. Kolaborasi lintas komunitas ini memperkuat dimensi edukatif dan kultural festival.
“Saya sangat terharu melihat bagaimana masyarakat Jawa di Malaysia menghargai seni budaya leluhur. Ini menjadi bukti bahwa warisan Nusantara mampu menyatukan kita tanpa melihat perbedaan,” ungkapnya.
Dwiono juga menambahkan bahwa Keraton Mbah Anang kini berperan sebagai simpul penting pertemuan budaya lintas negara. Keraton tersebut tidak hanya menjadi ruang pementasan, tetapi juga wadah dialog budaya yang mempertemukan seniman, akademisi, dan komunitas dari berbagai latar belakang.
Salah satu mahasiswa KKN Internasional Tyasmalaka UNESA, Inggrid Marisa Cindy, menyatakan bahwa keterlibatan dalam Festival Wayang Wong 2025 merupakan kebanggaan karena menjadi wadah mengekspresikan budaya leluhur Jawa di tingkat internasional.
“Festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan dan melestarikan budaya leluhur Jawa di tingkat internasional. Saya juga mengaku bangga dapat berkontribusi sebagai pengrawit bersama yang lainnya yang terlibat dan tim produksi. Seluruh mahasiswa KKN Internasional Tyasmalaka UNESA telah mempersiapkan kegiatan ini dengan matang sejak jauh hari, mulai dari latihan, koordinasi teknis, hingga kesiapan panggung, sehingga acara dapat berjalan lancar dan sesuai harapan.”
Melalui penyelenggaraan festival ini, Persatuan Jawa Parit Bugis (PEJAWA) menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan Keraton Mbah Anang sebagai pusat kegiatan seni dan budaya warisan Melayu–Jawa di Malaysia. Festival Wayang Wong diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan sebagai agenda tahunan, sejalan dengan visi MOTAC dalam memperkaya khazanah budaya nasional.