Dari Gambyong ke Zapin dan Makyong: Mahasiswa UNESA Bangun Jembatan Budaya Melalui Tari Tradisional Malaysia
Di
tengah misi melestarikan budaya Jawa di Malaysia, 16 mahasiswa Program Proyek
Kemanusiaan dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas
Negeri Surabaya (UNESA), justru membuka hati dan tubuh mereka untuk mempelajari
dua kesenian tradisional Melayu: Tari Zapin dan Tari Makyong. Langkah ini bukan
sekadar apresiasi, melainkan wujud nyata dari diplomasi budaya dua arah yang membawa
warisan Jawa ke tanah Johor, sekaligus menyerap kekayaan seni setempat dengan
rendah hati.
Sejak
awal keberadaan mereka di Johor, para mahasiswa tidak hanya mengajarkan bahasa,
aksara, dan tari Jawa, tetapi juga aktif mengikuti latihan Tari Zapin seminggu
sekali di bawah bimbingan pelatih lokal. Gerakan cepat, irama gambus yang khas,
serta sinkronisasi antara penari laki-laki dan perempuan menjadi tantangan
sekaligus pelajaran berharga tentang disiplin dan estetika seni Melayu.
“Tari
Zapin itu bukan cuma soal gerak, tapi soal kekompakan dan rasa. Awalnya kaku,
tapi lama-lama mereka mulai paham jiwa tarinya,” ujar Cikgu Edi dari Muar,
pelatih Tari Zapin untuk penari laki-laki.
Sementara
itu, Kak Siti dari Batu Pahat, pelatih Tari Zapin untuk penari perempuan,
mengaku terkesan dengan semangat belajar para mahasiswi UNESA. “Mereka datang
dari jauh, tapi tidak sombong. Bahkan mau belajar dari nol, meski sebagian
besar sudah jago menari Jawa. Itu sikap yang patut dihargai,” katanya.
Puncak
pertukaran budaya ini terjadi pada Minggu, 21 September 2025, ketika rombongan
mahasiswa mengunjungi Bengkel Tari Menghadap Rebab, sebuah sanggar pelestarian
Tari Makyong di Johor. Di sana, mereka diperkenalkan pada tarian ritual yang
usianya sudah berabad-abad yaitu Tari Makyong yang dikenal sebagai warisan
budaya takbenda UNESCO. Mereka diajak memahami makna simbolis setiap gerakan,
alur cerita dalam pertunjukan, serta peran rebab sebagai instrumen spiritual
dalam pertunjukan.
“Makyong
itu bukan hiburan biasa. Ini sarat dengan nilai spiritual, sejarah, dan
kearifan lokal. Kami senang ada generasi muda dari luar yang ingin
mempelajarinya dengan sungguh-sungguh,” kata seorang perwakilan dari Bengkel
Tari Menghadap Rebab.
Bagi
Rai Sayudha, Ketua Tyasmalaka Batch 1, pengalaman ini menjadi pelajaran hidup
yang tak terlupakan. “Kami datang untuk nguri-uri budaya Jawa, tapi justru
belajar bahwa melestarikan budaya itu juga tentang membuka diri. Tari Zapin dan
Makyong mengajarkan kami bahwa akar budaya bisa berbeda, tapi jiwa
kemanusiaannya sama,” ujarnya.
Kegiatan
pertukaran budaya ini tidak hanya memperkaya wawasan para mahasiswa, tetapi
juga mempererat hubungan antara komunitas Jawa dan Melayu di Johor. Masyarakat
setempat melihat langkah ini sebagai bentuk penghormatan yang tulus—bukan
sekadar “tampil lalu pergi”, melainkan tinggal, belajar, dan berbaur.
Melalui
gerak tubuh, irama, dan rasa, para mahasiswa UNESA membuktikan bahwa diplomasi
budaya paling kuat bukan yang dilakukan di ruang rapat, tapi di atas panggung,
di ruang latihan, dan dalam tawa bersama pelatih setempat.